Pendidikan Tinggi dalam Kompetisi Global

Joko Triloka | Dosen IBI Darmajaya Bandarlampung


Perkembangan pendidikan tinggi dewasa ini telah menimbulkan keprihatinan meluas di tengah masyarakat. Terlebih dihadapkan pada krisis multidimensional yang berkepanjangan. Masyarakat pun mengharapkan kepastian bagaimana bangsa ini akan menghadapi kompetisi global. Demikian berbagai indikator sosial dan ekonomi juga telah menunjukkan bahwa posisi bangsa ini makin tertinggal dari bangsa-bangsa lain dalam kompetisi global. 

BAGAIMANA pendidikan tinggi mencari jalan keluar dan bersama-sama masyarakat menggalang upaya untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini? Bagaimana pula perguruan tinggi meningkatkan mutu akademiknya di tengah keterbatasan sumber daya dan kurangnya perhatian dan dukungan lingkungan?  

Kesemuanya ini menjadi latar belakang perlunya transformasi perguruan tinggi pada era kompetisi global sekarang ini. Pemikiran bagaimana menempatkan pendidikan tinggi sebagai ujung tombak perubahan bangsa sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Berulang kali para pembuat kebijakan pendidikan tinggi dihadapkan pada pilihan-pilihan antara pemerataan pendidikan atau pengembangan pusat keunggulan (centers of excellence). Memasuki milenium ketiga, tampaknya, pilihan telah ditentukan. Kita tidak dapat mewujudkan keunggulan di segala bidang, di semua tempat, dan pada waktu yang bersamaan. Karena itu, strategi pengembangan pendidikan tinggi diarahkan pada pemberian peluang kepada perguruan tinggi yang mempunyai potensi dan kapasitas untuk mengembangkan dirinya meraih keunggulan kompetitif. Yakni keunggulan akademik atau yang sering kita sebut sebagai academic excellence.

Peranan perguruan tinggi dalam mempersiapkan daya saing bangsa mengarungi era persaingan global sudah sangat urgency. Pada umumnya pendidikan tinggi di negara ini telah tertinggal, bahkan terasing dari kebutuhan dan realitas sosial, ekonomi, serta budaya masyarakatnya. Perguruan tinggi memerlukan otonomi dan independensi untuk dapat memulihkan perannya itu keluar dari menara gading dan terlibat secara langsung sebagai agent of change dalam perubahan masyarakat. 

Memosisikan sebuah perguruan tinggi pada barisan perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik memerlukan perubahan yang fundamental sehingga mampu bersaing (better competitive situation). Sebuah perguruan tinggi harus memiliki strategic intent. Untuk mewujudkannya perlu dilakukan transformasi kelembagaan yang lebih kompleks dari sekadar pengembangan organisasi (organization development). Perguruan tinggi merupakan lembaga, dibangun komunitas akademik yang bersifat kolegial, dan menjunjung tinggi academic value untuk mencerdaskan bangsa. Ini yang membedakannya dengan organisasi lain. 

Melakukan perubahan fundamental untuk dapat menghasilkan nilai-nilai akademik, sosial, dan ekonomi merupakan kata kunci dalam transformasi sebuah perguruan tinggi. Transformasi kelembagaan ini mencakup penyelarasan atau perancangan ulang dari strategi, struktur, sistem, stakeholders relation, staff, skills (competence), style of leadership, dan shared value. Upaya transformasi kelembagaan ini diharapkan dapat merevitalisasi peran perguruan tinggi agar mampu berperan secara optimal dalam mewujudkan academic excellence for education, for industrial relevance, for contribution for new knowledge, dan for empowerment. 

Keberhasilan transformasi pendidikan tinggi adalah faktor kunci agar perguruan tinggi dapat berkiprah dalam kompetisi global. Restrukturisasi, rekonstruksi, reposisi, dan revitalisasi berbagai fungsi serta komponen organisasi diperlukan dalam proses transformasi ini. Secara garis besar, ada tiga prasyarat keberhasilan transformasi perguruan tinggi.

Pertama, penyelarasan secara bertahap struktur kelembagaan (program dan sumber daya) dengan perilaku civitas akademikanya untuk mencapai kinerja yang ditargetkan (performance). Setiap anggota civitas akademika harus mempunyai komitmen terhadap target mutu, ketepatan waktu, dan efektivitas program. Kedua, orientasi proses akademik pada pelayanan dan kepuasan stakeholders. Ketiga, kemampuan untuk menerapkan management best practice dalam pengelolaan dan pengembangan perguruan tinggi.

Munculnya kesadaran (awareness) bahwa bangsa ini memerlukan perguruan tinggi yang dapat diandalkan dalam kompetisi global merupakan faktor penting dalam memulai suatu perubahan. UU Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan pendidikan memperoleh 20% dari APBN merupakan peluang untuk melakukan transformasi pendidikan tinggi di negara ini. Namun, diperlukan keberanian untuk melakukan perubahan, do the right thing right at the first time merupakan semboyan yang harus didengungkan. Perguruan tinggi harus mengembangkan dirinya dan menyerap keterampilan management best practice sehingga dapat menjalankan good university governance.
Dalam menjawab pertanyaan mengapa perguruan tinggi di negara ini belum dapat menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di pasar tenaga kerja global dan bagaimana pengalamannya, maka dapatlah dikatakan bahwa secara umum persoalan ini berkaitan dengan kompetensi lulusan. Proses belajar yang berlangsung di kampus seharusnya memberikan jaminan mutu pada ketiga faktor kompetensi knowledge, skill, dan attitude. Ketidakmampuan bersaing ini disebabkan adanya kesenjangan antara kualifikasi yang diperlukan dengan kompetensi lulusan. Perguruan tinggi harus menyiapkan lingkungan belajar yang kondusif untuk terbentuknya kompetensi tersebut, perguruan tinggi memerlukan exposure international, jaringan kerja sama dengan universitas di luar negeri, pertukaran mahasiswa, dan lain-lain.  

Selain itu, perguruan tinggi perlu mengupayakan peningkatan kemampuan pendanaan dengan bijaksana dan kreatif. Perguruan tinggi harus menghindari opini komersialisasi yang berlebihan, khususnya dalam penerimaan mahasiswa baru. Sedapat mungkin diupayakan, dirancang sistem penerimaan mahasiswa yang memenuhi prinsip keadilan, menjamin akses, dan ketepatan metode (appropriateness).

Model penerimaan mahasiswa diusahakan terus diperbaiki dari segi alat ukurnya dan kemungkinan peran serta orang tua mahasiswa yang mampu dalam turut memikul biaya pendidikan. Singkatnya, setiap implikasi dari kebijakan penerimaan mahasiswa perlu dikaji dan dicarikan jalan keluarnya (subsidi silang, sponsorship, bekerja paro waktu di perguruan tinggi, dll.).
Sebagai sebuah lembaga akademik, peran perguruan tinggi sebagai penggerak utama, prime mover, bagi perubahan sosial jelaslah terkait erat dengan pencapaian academic excellence. Ini juga berarti bahwa academic excellence yang dicapai harus selaras dengan arah perubahan sosial yang dikehendaki bersama oleh segenap masyarakat. 

Pencapaian academic excellence dalam artian di atas mejadi panduan dalam pengembangan manajemen mutu dan upaya peningkatan mutu menjadi tanggung jawab dari setiap anggota civitas akademika. Untuk mewujudkan kebijakan mutu ini perlu dikembangkan sistem manajemen mutu yang bertujuan memastikan konsistensi mutu dalam layanan jasa pendidikan serta mengevaluasi dan meningkatkan pencapaian sasaran mutu. Langkah konkret dalam membuat proses pencapaian mutu, misalnya, menetapkan indikator-indikator seperti minimum 50% lulusannya mencapai indeks prestasi (IP) sekurang-kurangnya 3.0; minimum 50% lulusan menyelesaikan studinya tepat waktu; dan minimum 60% dosen mencapai indeks kinerja lebih dari 3.0. Selain itu, bentuk peningkatan mutu yang dapat dilakukan pada area layanan akademik seperti penyediaan sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, ruang kuliah, ruang studio/seminar, infrastruktur internet, serta pembuatan perangkat lunak administrasi akademik.

Kampus sebagai Laboratorium Kehidupan
Idealnya sebuah lembaga pendidikan memang bisa berperan sebagai ’’laboratorium kehidupan dan alam semesta” yang berskala mini. Meskipun mewujudkan lembaga yang ideal tidak mudah dan membutuhkan biaya yang sangat tinggi, langkah-langkah yang realistis ke arah itu dapat ditempuh. Pertama, menjadikan kampus sebagai ’’indigo society”, di mana proses belajar mengajar dan bermain menjadi satu. Seperti dalam kehidupan sosial anak-anak, mereka belajar melalui bermain dan bermain lewat belajar. Dalam bermain ini, mereka melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal dan berbagi pengalaman dengan teman-temannya.

Di dalam kampus, indigo society dapat terwujud melalui keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan di unit-unit penelitian, unit-unit usaha, unit-unit kegiatan mahasiswa, dan unit-unit pemberdayaan masyarakat. Ini memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk banyak berlatih, bereksplorasi, dan berinteraksi lebih dekat dengan para dosen.

Yang kedua, berpegang pada prinsip relevance bahwa apa-apa yang menjadi pokok bahasan di dalam kampus juga –kurang lebih– merupakan apa-apa yang dibahas dalam konteks sosial yang lebih luas, meskipun dengan kedalaman dan kekompleksan yang berbeda. 

Yang ketiga adalah menjadi ’’gaul”. Kemampuan bergaul adalah sejenis kemampuan/keterampilan untuk menjalin hubungan antarpersonal. Ini mencakup kemampuan untuk mendengarkan dan memahami orang lain dan kemampuan untuk membuat diri sendiri bisa dimengerti oleh orang lain. Sarana utama dalam bergaul adalah komunikasi dan ’’kunci” bagi komunikasi adalah to listen. Di dalam kampus ’’gaul” dapat ditingkatkan dengan cara memperbanyak dan memperkaya bentuk forum-forum interaksi antarmahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen, antara siswa, serta karyawan dengan dosen. Interaksi-interaksi ini diupayakan untuk bisa berlangsung dalam suasana yang rileks tapi tanpa mengurangi keseriusan, terbuka, dan akrab. Dalam situasi demikian, seseorang tidak akan mengalami hambatan psikologis untuk berusaha lebih mengenal orang lain ataupun untuk memperkenalkan diri.

Dalam konteks ini, institusional pendidikan perlu mampu mencapai academic excellence yang terus-menerus memotivasi, baik para mahasiswa, para dosen, maupun segenap tenaga pendukung pendidikan. Untuk mencapai tersebut perlu dikembangkan sistem manajemen mutu, menghidupkan suasana ’’indigo society”, mempromosikan relevance, dan ’’gaul”. 

Dengan langkah-langkah demikian, diharapkan kampus dapat berperan bukan saja sebagai ’’laboratorium kehidupan” mini, melainkan juga sebagai salah satu learning center bagi masyarakat luas untuk bisa mewujudkan dunia pendidikan yang semakin cerah dan mencerahkan. (*)

kemriting hpeq2 unesco2 pkkki2mmpt