Potret Kecil Pendidikan Tinggi Kita: Sebuah Otokritik

Shulby Yozar Ariadhy, MPA

Dimuat di Harian Babel Pos  tanggal 11 September 2012

Pernah saya punya kesempatan untuk belajar sebentar di sebuah kampus di Belanda. Namun, kali ini saya bukan ingin bercerita tentang keindahan arsitektur Eropa atau kanal-kanal di Amsterdam yang bersih, tapi cerita tentang bagaimana cara belajar di negeri itu dan barangkali ini akan relevan dengan situasi sekarang dimana tahun akademik baru saja dimulai di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Bangka Belitung. Memang secara umum menjadi mahasiswa di Belanda tidak berbeda dengan kuliah di Indonesia, tapi belajar yang saya jalani saat itu punya nuansa lain bila dilihat dari bagaimana mereka merencanakan pengajaran sebuah mata kuliah dan bagaimana semangat serta tuntutan kemandirian bagi mahasiswa. Kebetulan kampus dimana saya belajar punya sistem dimana setiap satu bulan dikonsentrasikan pada pembahasan satu mata kuliah. Harapannya pendalaman terhadap materi menjadi lebih terbuka lebar. Tugas dan materi kuliah sudah disusun sedemikian rupa, lengkap dengan referensinya masing masing dalam jumlah yang tidak sedikit. Semua itu dilaksanakan dengan tertib dan tepat sesuai perencanaan. Jangan harap bisa bertahan (survive) jika semangat belajar Cuma seadanya. Tugas dan bacaan wajib yang datang silih berganti seolah tanpa jeda. Pertemuan kuliah hanya akan jadi tempat melamun kalau sebelumnya tidak membaca referensi mata kuliah karena umumnya pertemuan di kelas hanya ditujukan untuk pendalaman dan bukan untuk mengajarkan materi secara keseluruhan. Lalu, saya yang terbiasa dengan suasana kuliah yang lebih “santai” di Indonesia sempat terkejut dan mau tidak mau juga harus menyesuaikan dengan gaya belajar disana. Karena saya akui, ketika di Indonesia, meskipun tersedia silabus untuk sebuah mata kuliah, tidak banyak dosen yang betul betul menjalankannya dengan tertib. Sementara semangat saya untuk membaca referensi mata kuliah juga sedang-sedang saja, namun dengan kondisi seperti itu saya tetap bisa lulus.

Pada sisi lain, mahasiswa di Belanda dituntut untuk belajar secara lebih mandiri. Dosen memang memberikan “apa” yang mereka harapkan dari mahasiswa tapi menyerahkan sepenuhnya kepada mahasiswa “bagaimana” cara mengerjakannya. Mahasiswa dianggap bisa berkembang dan tumbuh serta mengurus dirinya sendiri. Sedikit banyak, budaya individualistik mungkin juga ikut berpengaruh. Berbeda dengan kondisi di Indonesia dimana saya merasakan bahwa ketergantungan seorang mahasiswa dengan dosen dan teman kuliah cukup besar.  Beberapa

mahasiswa bahkan seperti menganut prinsip belajar seadanya. Bahwa selama mengikuti mahasiswa lain, maka saya pasti akan lulus. Tapi rasanya tidak

seperti itu bagi mahasiswa di Belanda. Tuntutan untuk melahirkan ide orisinal pribadi dalam tugas seperti paper menjadi sebuah keharusan.

Bagi mahasiswa di Indonesia kondisi ketidakmandirian itu lalu menjadi petaka ketika sudah memasuki fase penulisan penelitian semisal skripsi. Pada fase penulisan skripsi, masing masing mahasiswa dihadapkan pada persoalannya sendiri, mulai dari menentukan tema yang tidak boleh sama satu sama lain, mengumpulkan data dan menghadapi dinamika relasi dengan pembimbing skripsinya sendiri-sendiri. Bagi mahasiswa yang tidak terbiasa bekerja mandiri, skripsi seolah menjadi hantu yang menakutkan. Sepanjang pengalaman saya, bagian dari kurikulum yang berbobot 6 (enam) SKS ini banyak memakan “korban”. Banyak sekali mahasiswa yang menyerah dan memutuskan untuk berhenti kuliah yang tinggal sedikit lagi mencapai garis akhir perkuliahan. Bukan karena tidak pintar, tapi lebih karena persoalan mental. Hal ini diperparah dengan rendahnya minat membaca sang mahasiswa. Lalu sebagian mengambil jalan pintas dengan melakukan plagiarisme atau meminta pembuatan skripsi lewat biro jasa skripsi atau oknum dosen yang nakal.

Selain itu, saya mengamati tentang bagaimana perkembangan aktualitas keilmuan di Indonesia agak sedikit terlambat bila dibandingkan dengan kampus-kampus di Belanda. Hal ini dapat dilihat dari tema serta konsep pembahasan di kampus Belanda yang sepertinya masih agak sulit ditemukan pada buku buku teks perkuliahan di Indonesia. Bagi saya yang mendalami ilmu administrasi publik misalnya, menemukan bahwa buku terjemahan “Analisis Kebijakan Publik” karangan Wiliam Dunn hampir menjadi seperti “kitab suci” bagi para mahasiswa ilmu administrasi publik di Indonesia. Kebanyakan mahasiswa selalu mengutip pendapatnya ketika menulis tentang kebijakan publik. Padahal ada banyak sekali pendapat pendapat lain yang menawarkan perspektif baru tentang kebijakan publik. Parahnya lagi, buku-buku yang berpengaruh secara akademik pada level internasional, yang umumnya dibuat oleh ilmuwan dari benua lain, juga selalu terlambat beredar secara luas di Indonesia. Itupun terjemahannya. Sehingga tidak heran kalau kita memeriksa daftar pustaka skripsi mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia yang berada dalam satu rumpun ilmu, maka kemungkinan besar kita akan dengan mudah menemukan referensi penulisan yang mirip satu sama lain. Akibatnya bisa ditebak, bahwa rumusan masalah penelitian akan berputar disitu-situ saja, alur penulisan skripsi juga akan cenderung punya banyak kesamaan. Seolah-olah tinggal mengganti tahun dan lokasi penelitian.

Begitulah, barangkali cerita saya tidak bisa digeneralisasi untuk menilai budaya belajar di institusi pendidikan tinggi Indonesia secara keseluruhan dan agak sedikit hiperbolik, tapi sulit untuk membantah bahwa semuanya memang betul-betul terjadi dalam dunia pendidikan tinggi kita. Meskipun tentunya kita tidak menutup mata terhadap semangat dan prestasi belajar sebagian insan perguruan tinggi kita di Indonesia. Serta pada sisi lain dimana sistem pendidikan tinggi di Belanda mungkin juga memiliki kekurangannya sendiri.

Semoga adik-adik mahasiswa baru dapat menemukan semangat belajar yang tidak kalah dengan mahasiswa di benua lain sebagaimana cerita saya diatas. Menjadikan fase pendidikan tinggi sebagai salah satu gerbang bagi kontribusi yang lebih luas untuk kemajuan bangsa kita, Bangsa Indonesia. Majulah terus tunas bangsaku. Merdeka !!.

sumber: http://stisipolp12.ac.id

 

kemriting hpeq2 unesco2 pkkki2mmpt