banner main1

Second International Symposium on Higher Education Leadership and Management

int-simposium2Simposium Internasional Pendidikan Tinggi ke-2

Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT) UGM bekerjasama dengan KEMENRISTEKDIKTI dan USAID, hari Selasa 26 Juli 2016 kemarin menyelenggarakan Second International Symposium on Higher Education Leadership and Management. Simposium yang dilaksanakan di Balai Senat UGM tersebut mengambil tema “Strengthening Harmonization And Synergism Of Higher Education In ASEAN Economic Community (AEC)”. Simposium ini selain menghadirkan ahli pendidikan tinggi di Indonesia sebagai pembicara, juga menghadirkan pembicara dari Indiana University.

Prof. Sahid Susanto selaku ketua Prodi MMPT Universitas Gadjah Mada menyatakan bahwa simposium ini diadakan untuk memikirkan posisi Higher Education Institution (HEI) di Indonesia untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean. Jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia termasuk paling besar di antara seluruh negara anggota ASEAN sehingga diharapkan ada pemikiran untuk kesetaraan kualitas di ASEAN dari segenap perguruan tinggi. Kesetaraan itu dapat tercapai jika setiap universitas dapat memilih suatu pembanding untuk menyetarakan posisi dan dijadikan sebagai dasar penjaminan mutu. Sehingga adanya standar Quality Assurance yang bisa disepakati untuk mencapai kesetaraan di Masyarakat Ekonomi ASEAN, diharapkan juga ada langkah-langkah secara internally dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia untuk mencapai standar tersebut. Reportase dan materi presentasi selengkapnya 

Karakter Ilmuan: Gender dan Kompetensi Ilmiah

http://everydayfeminism.com/wp-content/uploads/2015/08/iStock_000042721574_Medium.jpg

Penelitian ini meneliti hubungan antara gender dan kompetensi keilmuan dalam representasi fiksi ilmuwan di televisi fiksi ilmiah Doctor Who. Sebelumnya penelitian ilmuwan fiksi berpendapat bahwa perempuan sering digambarkan sebagai kurang memiliki kemampuan ilmiah dibandingkan laki-laki. Dengan meneliti kedua kelompok ilmuwan, yaitu perempuan dan laki-laki (N = 222) yang digambarkan selama 50 tahun pertama Doctor Who, penelitian ini menunjukkan bahwa, meskipun para ilmuwan laki-laki secara signifikan kalah jumlah dengan ilmuwan perempuan di dekade terbaru, kedua jenis kelamin secara konsisten telah digambarkan sebagai sama-sama kompeten dalam hal-hal ilmiah. Ilmuwan laki-laki yang tidak kompeten sebagian besar digambarkan sebagai sosok yang kurang maskulin. Kemampuan maskulin dan kecakapan tetap mempengaruhi representasi kompetensi ilmiah.  Selengkapnya 


Pembaharuan Manajemen Pendidikan Tinggi Publik di Inggris

Manajemen Pendidikan di Inggris

Makalah ini membahas praktik manajemen saat ini, sejauh mana teknologi digunakan dalam pendidikan tinggi publik di Inggris untuk mengawasi pekerjaan akademis pada tahun 1960-an, 1970-an dan 1980-an. Hal ini dilakukan dengan memeriksa perubahan harapan tentang peran kepemimpinan dari akademisi dan peran manajemen (selanjutnya disebut sebagai manager akademik) di berbagai titik dalam periode empat puluh tahun ini dan sumber-sumber yang menyebabkan perubahan ini. Makalah ini menggunakan konsep tentang manajemen dan modernisasi organisasi yang didanai publik. Selengkapnya 

 


++ Arsip Pengantar


 

Transformasi dalam Budaya Meneliti.

Pengamatan  dan diskusi menunjukkan bahwa budaya penelitian masih belum baik, bahkan di perguruan tinggi besar yang mungkin akan menjadi PTN badan hukum. Dalam hal ini memang perlu ada ketegasan dari pihak perguruan tinggi apakah akan menjadi teaching-university, atau research university. Menjadi teaching university, walaupun tidak terlalu menggembirakan, asal baik, bukanlah hal yang buruk. Situasi lebih buruk terjadi jika sebuah perguruan tinggi ingin menjadi research-university, tetapi tidak mempunyai kemampuan sehingga teaching buruk, dan researchnya juga buruk.
Di dalam UU Pendidikan tinggi memang tidak dikenal istilah research atau teaching unversitiy. Sebagai gambaran, bagian Kedua , Pasal 59 menguraikan Bentuk Perguruan Tinggi yang terdiri atas: perguruan tinggi; institut; sekolah tinggi;  politeknik; akademi; dan akademi komunitas. Dengan demikian memang ada perguruan tinggi negeri yang belum mampu secara maksimal melaksanakan Pasal 45 UU DikTi yang menyebutkan:

(1)  Penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan Ilmu pengetahuan dan Teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.
(2)  Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Sivitas Akademika sesuai dengan otonomi keilmuan dan budaya akademik.
(3)  Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan jalur kompetensi dan kompetisi.

Pasal 46

(1)    Hasil Penelitian bermanfaat untuk: a. pengayaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta pembelajaran;  b. peningkatan mutu Perguruan Tinggi dan kemajuan peradaban bangsa; c. peningkatan kemandirian, kemajuan, dan daya saing bangsa; d. pemenuhan kebutuhan strategis pembangunan nasional; dan perubahan Masyarakat Indonesia menjadi Masyarakat berbasis

Bagi PT negeri yang belum mampu, dapat ditegaskan dengan pengelola perguruan tinggi bahwa kebijakan bahwa perguruan tinggi tersebut masih berada pada tahap teaching-university.  Tentunya masih ada komponen penelitian, namun komponen penelitian tidak begitu dalam. Bagi yang sudah berani menyatakan sebagai research university, harus konsekuen untuk mengembangkan diri. Salahsatu konsekuensinya adalah merekrut dan mengembangkan karir peneliti yang full-timer. Di Dalam UU Pendidikan Tinggi hanya ada dua jenis tenaga: dosen dan tenaga kependidikan. Namun sebuah research university perlu mempunyai tenaga peneliti yang full-timer. Hal ini perlul masuk dalam Statuta.
Bagi research university salah satu konsekuensinya adalah: Apakah  penelitian memang cenderung  untuk penelitian multi disiplin? Bagaimana dengan penelitian ilmu-ilmu dasar? Di research university di berbagai kampus baik di luar negeri, pola pengembangan sebagian justru masuk kepada pengembangan penelitian monodisiplin beserta pengembangan infrastrukturnya.  Oleh karena itu, pengembangan penelitian monodisiplin yang langsung masuk ke lab atau unit penelitian di fakultas perlu diperhatikan. Sebagai catatan:  penelitian di bawah fakultas bukan berarti tidak melakukan kerjasama dengan dosen fakultas lain. Insentif untuk dosen yang meneliti perlu ditingkatkan, termasuk ruang kerja yang mendukung penelitian.

Sebagai ringkasan diperlukan transformasi dari budaya teaching ke budaya meneliti. Transformasi ini tidak mudah karena menyangkut perubahan budaya organisasi dan budaya kerja dosen, dan fasilitasnya. Bagi perguruan tinggi yang belum mampu meneliti, sebaiknya tegas menyatakan diri sebagai teaching-university dengan mutu yang baik. Bagi yang mampu, harus menjadi research-university yang benar. Perubahan budaya ini harus dilakukan oleh pengelola perguruan tinggi dengan dasar UU Pendidikan Tinggi.


Perlunya perubahan mind-set secara total

DISKUSI INTERAKTIF

001

GOVERNANCE UNIVERSITAS

002

KEPEMIMPINAN ILMU

003

KEPEMIMPINAN STRUKTURAL

LINK TERKAIT

kemriting hpeq2 unesco2 pkkki2mmpt