banner main1

header

DEAN COURSE ON

LEADERSHIP DEVELOPMENT PROGRAM

Tema: Kepemimpinan Suportif untuk Membangun Kepemimpinan Keilmuan

MMPT-UGM, DIKTI, HELM-USAID
Juni – Agustus 2014

 welcome-dc

 

OVERVIEW


Pada era kerjasama global di Abad XXI ini terbuka peluang yang sangat luas bagi para generasi muda ilmuwan dan tenaga kerja terampil berbasis ilmu pengetahuan untuk meningkatkan peran sertanya bagi kemajuan masyarakat dunia dan bangsa Indonesia. Untuk mendukung kemampuan dalam mengambil peluang tersebut diperlukan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki reputasi akademik yang tinggi. Hal ini dapat dicapai antara lain apabila sumberdaya manusia pelaksana pendidikan tinggi yaitu para dosen dan guru besar terdukung dengan baik dalam memainkan perannya sebagai pemimpin-pemimpin keilmuan (scientific leaders). Dukungan tersebut utamanya berkaitan dengan sumberdaya stratejik lainnya yaitu finansial, sarana-prasarana, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan sistem manajemen yang efektif. Untuk itu diperlukan pemimpin struktural yang mampu memainkan peran sebagai pemimpin yang suportif. Kepemimpinan yang suportif sangat penting untuk diterapkan di perguruan tinggi karena dosen sebagai ujung tombak pengembangan ilmu perlu didukung agar dapat menjadi pemimpin keilmuan dan mengangkat reputasi akademik institusi.

Dalam kerangka pengembangan kepemimpinan tersebut di atas HELM-USAID bekerjasama dengan DIKTI dan MMPT UGM menyelenggarakan Dean Course on Leadership Development Program berbasis online dan webinar dengan tema: “Kepemimpinan yang Suportif untuk Membangun Kepemimpinan Keilmuan”. Dean Course Leadership tentang kepemimpinan yang suportif ini ditujukan kepada pimpinan di tingkat fakultas, politeknik dan akademi komunitas dengan tujuan agar institusi ini mampu mewujudkan scientific vision sesuai dengan pilihan keilmuan masing-masing.

Kepemimpinan suportif pada dasarnya adalah kepemimpinan yang lebih mengarah diri pada upaya membangun sistem manajemen sumberdaya strategis lembaga pendidikan tinggi agar diperoleh kinerja akademik yang optimal. Gaya kepemimpinan ini lebih menitikberatkan pada upaya memfasilitasi dosen agar dapat menjalankan tugas sebagai ilmuwan secara maksimal. Gaya ini berbeda dengan gaya kepemimpinan yang ada di birokrasi pemerintahan.

Peserta Dean Course Leadership Angkatan I diharapkan sejumlah 26 orang pimpinan fakultas (dekan/wakil dekan), politeknik dan akademi komunitas dari perwakilan 13 lembaga pendidikan tinggi Indonesia. Materi Dean Course Leadership dikemas ke dalam 3 modul dan masing-masing modul memuat 3 submodul. Setiap submodul dipelajari dalam satu minggu dengan mengunduh bahan pembelajaran melalui internet. Para peserta dipersilakan untuk menyampaikan melalui e-mail pertanyaan atau gagasan yang berkaitan dengan submodul yang dipelajari. Pembelajaran dalam setiap modul diakhiri dengan sesi diskusi secara online menggunakan media Webinar. Pada sesi webinar para fasilitator menanggapi pertanyaan dan gagasan peserta dan dilakukan diskusi secara on-line. Dean Course Leadership akan diakhiri dengan evaluasi hasil pembelajaran dalam suatu pertemuan tatap muka. Akan diterbitkan sertifikat Dean Course Leadership bagi peserta yang aktif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran semua modul dan submodul.

Dean Course Leadership pengembangan kepemimpinan ini dikemas ke dalam tiga modul dan dan setiap modul berisi tiga submodul sebagai berikut.

MODUL I: Membentuk Karakter dan Memberi Arah Untuk Mewujudkan Kepemimpinan Struktural yang Suportif;

MODUL II: Meningkatkan Komitmen Sumberdaya Manusia Untuk Mewujudkan Kepemimpinan Struktural yang Suportif;

MODUL III: Menggerakkan Perubahan;

Keberhasilan dalam mengikuti Dean Course Leadership ini sangat ditentukan oleh keaktifan peserta dalam mempelajari, menanggapi, dan menindaklanjuti materi dan tugas pada setiap modul dan submodul. Selamat mengikuti Dean Course Leadership. Semoga peran serta ibu bapak dalam Dean Course Leadership ini bermanfaat bagi ibu bapak dan bagi kemajuan lembaga pendidikan tinggi yang ibu bapak pimpin.

Yogyakarta, 30 Mei 2014

Magister Manajemen Pendidikan Tinggi

Sekolah Pascasarjana UGM

 

Prof. Dr. Sahid Susanto, MS.

Penanggung jawab

 

Transformasi dalam Budaya Meneliti.

Pengamatan  dan diskusi menunjukkan bahwa budaya penelitian masih belum baik, bahkan di perguruan tinggi besar yang mungkin akan menjadi PTN badan hukum. Dalam hal ini memang perlu ada ketegasan dari pihak perguruan tinggi apakah akan menjadi teaching-university, atau research university. Menjadi teaching university, walaupun tidak terlalu menggembirakan, asal baik, bukanlah hal yang buruk. Situasi lebih buruk terjadi jika sebuah perguruan tinggi ingin menjadi research-university, tetapi tidak mempunyai kemampuan sehingga teaching buruk, dan researchnya juga buruk.
Di dalam UU Pendidikan tinggi memang tidak dikenal istilah research atau teaching unversitiy. Sebagai gambaran, bagian Kedua , Pasal 59 menguraikan Bentuk Perguruan Tinggi yang terdiri atas: perguruan tinggi; institut; sekolah tinggi;  politeknik; akademi; dan akademi komunitas. Dengan demikian memang ada perguruan tinggi negeri yang belum mampu secara maksimal melaksanakan Pasal 45 UU DikTi yang menyebutkan:

(1)  Penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan Ilmu pengetahuan dan Teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.
(2)  Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Sivitas Akademika sesuai dengan otonomi keilmuan dan budaya akademik.
(3)  Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan jalur kompetensi dan kompetisi.

Pasal 46

(1)    Hasil Penelitian bermanfaat untuk: a. pengayaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta pembelajaran;  b. peningkatan mutu Perguruan Tinggi dan kemajuan peradaban bangsa; c. peningkatan kemandirian, kemajuan, dan daya saing bangsa; d. pemenuhan kebutuhan strategis pembangunan nasional; dan perubahan Masyarakat Indonesia menjadi Masyarakat berbasis

Bagi PT negeri yang belum mampu, dapat ditegaskan dengan pengelola perguruan tinggi bahwa kebijakan bahwa perguruan tinggi tersebut masih berada pada tahap teaching-university.  Tentunya masih ada komponen penelitian, namun komponen penelitian tidak begitu dalam. Bagi yang sudah berani menyatakan sebagai research university, harus konsekuen untuk mengembangkan diri. Salahsatu konsekuensinya adalah merekrut dan mengembangkan karir peneliti yang full-timer. Di Dalam UU Pendidikan Tinggi hanya ada dua jenis tenaga: dosen dan tenaga kependidikan. Namun sebuah research university perlu mempunyai tenaga peneliti yang full-timer. Hal ini perlul masuk dalam Statuta.
Bagi research university salah satu konsekuensinya adalah: Apakah  penelitian memang cenderung  untuk penelitian multi disiplin? Bagaimana dengan penelitian ilmu-ilmu dasar? Di research university di berbagai kampus baik di luar negeri, pola pengembangan sebagian justru masuk kepada pengembangan penelitian monodisiplin beserta pengembangan infrastrukturnya.  Oleh karena itu, pengembangan penelitian monodisiplin yang langsung masuk ke lab atau unit penelitian di fakultas perlu diperhatikan. Sebagai catatan:  penelitian di bawah fakultas bukan berarti tidak melakukan kerjasama dengan dosen fakultas lain. Insentif untuk dosen yang meneliti perlu ditingkatkan, termasuk ruang kerja yang mendukung penelitian.

Sebagai ringkasan diperlukan transformasi dari budaya teaching ke budaya meneliti. Transformasi ini tidak mudah karena menyangkut perubahan budaya organisasi dan budaya kerja dosen, dan fasilitasnya. Bagi perguruan tinggi yang belum mampu meneliti, sebaiknya tegas menyatakan diri sebagai teaching-university dengan mutu yang baik. Bagi yang mampu, harus menjadi research-university yang benar. Perubahan budaya ini harus dilakukan oleh pengelola perguruan tinggi dengan dasar UU Pendidikan Tinggi.


Perlunya perubahan mind-set secara total

DISKUSI INTERAKTIF

001

GOVERNANCE UNIVERSITAS

002

KEPEMIMPINAN ILMU

003

KEPEMIMPINAN STRUKTURAL

LINK TERKAIT

dikti hpeq2 unesco2 mpkkkki2mmpt