banner main1

  • merdeka
  • DSC 0034
  • gedung
  • WEBINAR
  • workshop
  • Policy Forum MMPT.
  • Gedung SPs MMPT.
  • Webinar
  • Workshop MMPT


HEADER JADI

USAID-HELM UGM COURSE 2014


PENTINGNYA PENINGKATAN KUALITAS MANAJEMEN

INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI

        Kompetisi yang semakin tajam di segala aspek kehidupan pada dasa warsa akhir-akhir ini memberikan implikasi pada operasionalisasi institusi pendidikan tinggi (PT). Tugas pokok Tri Dharma yang harus diemban PT mengharuskan melakukan perubahan yang berorientasi kualitas.Phenomena eksternal ini dibarengai dengan adanya hambatan PT karena menurunnya dukungan finansial baik dari pemerintah maupun dari masyarakat karena faktor sebagai implikasi melambatnya ekonomi. Diikuti dengan meningkat pesatnya teknologi informasi akhir-2 ini, tingkat jaminan kualitas manajemen PT sebagai hasil kinerjanya sudah menjadi informasi yang dapat di akses publik. Dengan keterbukaan itu, publik bisa mempertimbangkan PT mana yang akan dipilih.

 

Di skala internal, ada kecenderungan kuat peserta didik menginginkan untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang memadahi agar masa depannya terjamin. Kualitas produk ilmu pengetahuan PT sekarang juga mengharuskan untuk di akses melalui media IT sehingga dengan mudah masyarakat mendapatkan informasi kemajuan ilmu pengetahuan yang dihasilkan PT.

 

Sesuai dengan tingkatan akademiknya, unit rumpun keilmuan yang berbentuk Fakultas, Politeknik atau Akademi Komunitas) merupakan pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mempunyai keunikan sekaligus bisa dijadikan sebagai unggulan. Dengan demikian, dosen yang mempunyai otoritas pengembangan ilmu pengetahuan merupakan bagian aset penting untuk menghasilkan produk akadmik PT agar PT yang bersangkutan diakui keberadaan dan reputasinya di masyarakat luas. Dengan demikian diperlukan suatu transformasi perubahan kepemimpinan manajemen menuju gaya kepemimpinan yang supportif dengan fokus agar dosen mampu mengembangkan ilmu opengetahuan secara maksimal

 

Atas beberapa pertimbangan itulah program HELM (Higher Education Leadership and Management) dari CHEMONIC dengan dukungan pendanan dari USAID bekerjasama dengan DitJen Dikti dan Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT) Sekolah Pasca Sarjana (SPS) UGM menyelenggarakan empat program training dengan pendekatan blended learning. Blended learing merupakan pendekatan trasformasi pengetahuan yang dilakukan campuran interaksi antara tatap muka dengan online berbasis web dan webinar. Target peserta training adalah dari PTN, PTS, Politeknik dan Akademik Komunitas yang menjadi partisipan program HELM, yang dipertimbangkan masih memerlukan dorongan pengembangan kualitas manajemen. Setiap angkatan diunadang peserta 25-30 orang. Program diharapkan berlangsung selama 4-5 tahun.


Ada empat area yang dijadikan fokus training:

 

 

Area training

Peserta

1.

Leadership

Pimpinan fakultas, politeknik dan Akademi Komunitas

2.

External Collaboration

Pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

3.

Quality Assurance

Para pimpinan unit manajemen mutu

4.

Fnancial Management

Para pimpinan unit manajemen keungan

 


 RENCANA JADWAL HELM-USAID COURSE 2014


Untitled

 

Pengamatan  dan diskusi menunjukkan bahwa budaya penelitian masih belum baik, bahkan di perguruan tinggi besar yang mungkin akan menjadi PTN badan hukum. Dalam hal ini memang perlu ada ketegasan dari pihak perguruan tinggi apakah akan menjadi teaching-university, atau research university. Menjadi teaching university, walaupun tidak terlalu menggembirakan, asal baik, bukanlah hal yang buruk. Situasi lebih buruk terjadi jika sebuah perguruan tinggi ingin menjadi research-university, tetapi tidak mempunyai kemampuan sehingga teaching buruk, dan researchnya juga buruk.
Di dalam UU Pendidikan tinggi memang tidak dikenal istilah research atau teaching unversitiy. Sebagai gambaran, bagian Kedua , Pasal 59 menguraikan Bentuk Perguruan Tinggi yang terdiri atas: perguruan tinggi; institut; sekolah tinggi;  politeknik; akademi; dan akademi komunitas. Dengan demikian memang ada perguruan tinggi negeri yang belum mampu secara maksimal melaksanakan Pasal 45 UU DikTi yang menyebutkan:

(1)  Penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan Ilmu pengetahuan dan Teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.
(2)  Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Sivitas Akademika sesuai dengan otonomi keilmuan dan budaya akademik.
(3)  Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan jalur kompetensi dan kompetisi.

Pasal 46

(1)    Hasil Penelitian bermanfaat untuk: a. pengayaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta pembelajaran;  b. peningkatan mutu Perguruan Tinggi dan kemajuan peradaban bangsa; c. peningkatan kemandirian, kemajuan, dan daya saing bangsa; d. pemenuhan kebutuhan strategis pembangunan nasional; dan perubahan Masyarakat Indonesia menjadi Masyarakat berbasis

Bagi PT negeri yang belum mampu, dapat ditegaskan dengan pengelola perguruan tinggi bahwa kebijakan bahwa perguruan tinggi tersebut masih berada pada tahap teaching-university.  Tentunya masih ada komponen penelitian, namun komponen penelitian tidak begitu dalam. Bagi yang sudah berani menyatakan sebagai research university, harus konsekuen untuk mengembangkan diri. Salahsatu konsekuensinya adalah merekrut dan mengembangkan karir peneliti yang full-timer. Di Dalam UU Pendidikan Tinggi hanya ada dua jenis tenaga: dosen dan tenaga kependidikan. Namun sebuah research university perlu mempunyai tenaga peneliti yang full-timer. Hal ini perlul masuk dalam Statuta.
Bagi research university salah satu konsekuensinya adalah: Apakah  penelitian memang cenderung  untuk penelitian multi disiplin? Bagaimana dengan penelitian ilmu-ilmu dasar? Di research university di berbagai kampus baik di luar negeri, pola pengembangan sebagian justru masuk kepada pengembangan penelitian monodisiplin beserta pengembangan infrastrukturnya.  Oleh karena itu, pengembangan penelitian monodisiplin yang langsung masuk ke lab atau unit penelitian di fakultas perlu diperhatikan. Sebagai catatan:  penelitian di bawah fakultas bukan berarti tidak melakukan kerjasama dengan dosen fakultas lain. Insentif untuk dosen yang meneliti perlu ditingkatkan, termasuk ruang kerja yang mendukung penelitian.

Sebagai ringkasan diperlukan transformasi dari budaya teaching ke budaya meneliti. Transformasi ini tidak mudah karena menyangkut perubahan budaya organisasi dan budaya kerja dosen, dan fasilitasnya. Bagi perguruan tinggi yang belum mampu meneliti, sebaiknya tegas menyatakan diri sebagai teaching-university dengan mutu yang baik. Bagi yang mampu, harus menjadi research-university yang benar. Perubahan budaya ini harus dilakukan oleh pengelola perguruan tinggi dengan dasar UU Pendidikan Tinggi.


Perlunya perubahan mind-set secara total

DISKUSI INTERAKTIF

001

GOVERNANCE UNIVERSITAS

002

KEPEMIMPINAN ILMU

003

KEPEMIMPINAN STRUKTURAL

LINK TERKAIT

dikti hpeq2 unesco2 mpkkkki2mmpt