banner main1

Improving leadership in Higher Education institutions: a distributed perspective

http://assets.richmond.edu/images/spcs/showcases/centers-institutes/leadership-education/leadership-education.jpg

Kepemimpinan bagi perguruan tinggi adalah salah satu aspek yang penting, terutama untuk mencapai good university governance. Artikel  ini berisi laporan penelitian kualitatif yang mengeksplorasi bagaimana pola distribusi kepemimpinan yang tampak dalam tim proyek perguruan tinggi. Artikel ini juga mengungkap  faktor-faktor yang ditemukan dapat meningkatkan dan menghambat terjadinya dan efektivitas kepemimpinan perguruan tinggi. Selengkapnya 

Mempersiapkan Pendidik Guru Sains Masa Depan pada Program Doktoral Ilmu Pendidikan

Program doktor ilmu pendidikan sering gagal untuk mengatasi masalah terkait dengan persiapan untuk menjadi pendidik dari guru sains di masa depan. Artikel ini mengungkapkan bahwa di samping mengembangkan keterampilan dan basis pengetahuan untuk penelitian, mahasiswa doktoral harus diberi kesempatan untuk mengamati, praktek, dan merefleksikan pengetahuan pedagogis yang diperlukan untuk menginstruksikan guru ataupun dosen sains. Selengkapnya 

Young Tenured Professors Benefit from  Mentoring Program

http://d1zlh37f1ep3tj.cloudfront.net/wp/wblob/54592E651337D2/6DD/8EB1D/s7rBn64IdwsVM-6ZUQwWyQ/Approaches-to-Enable-Others-to-Act.png

Apakah profesor muda yang menerima mentoring berbeda dari mereka yang tidak menerima mentoring dalam hal motivasi, kinerja ilmiah, dan praktek manajemen kelompok? Artikel ini berisi tentang survei di antara pemimpin kelompok penelitian di biomedis dan ilmu kesehatan di Belanda, untuk mempelajari efek dari bimbingan. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa praktek bimbingan (mentoring) mengarah ke hasil positif. Profesor muda yang menerima bimbingan rata-rata memiliki pandangan yang lebih positif terhadap lingkungan kerja mereka dan mengelola penelitian mereka secara lebih aktif. Selanjutnya, profesor muda dengan mentor rata-rata tampil lebih baik dalam hal hibah yang diperoleh. Temuan ini menunjukkan bahwa penting bagi perguruan tinggi untuk aktif mengatur program bimbingan untuk staf senior muda. Selengkapnya 


++ Arsip Pengantar


 

Transformasi dalam Budaya Meneliti.

Pengamatan  dan diskusi menunjukkan bahwa budaya penelitian masih belum baik, bahkan di perguruan tinggi besar yang mungkin akan menjadi PTN badan hukum. Dalam hal ini memang perlu ada ketegasan dari pihak perguruan tinggi apakah akan menjadi teaching-university, atau research university. Menjadi teaching university, walaupun tidak terlalu menggembirakan, asal baik, bukanlah hal yang buruk. Situasi lebih buruk terjadi jika sebuah perguruan tinggi ingin menjadi research-university, tetapi tidak mempunyai kemampuan sehingga teaching buruk, dan researchnya juga buruk.
Di dalam UU Pendidikan tinggi memang tidak dikenal istilah research atau teaching unversitiy. Sebagai gambaran, bagian Kedua , Pasal 59 menguraikan Bentuk Perguruan Tinggi yang terdiri atas: perguruan tinggi; institut; sekolah tinggi;  politeknik; akademi; dan akademi komunitas. Dengan demikian memang ada perguruan tinggi negeri yang belum mampu secara maksimal melaksanakan Pasal 45 UU DikTi yang menyebutkan:

(1)  Penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan Ilmu pengetahuan dan Teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.
(2)  Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Sivitas Akademika sesuai dengan otonomi keilmuan dan budaya akademik.
(3)  Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan jalur kompetensi dan kompetisi.

Pasal 46

(1)    Hasil Penelitian bermanfaat untuk: a. pengayaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta pembelajaran;  b. peningkatan mutu Perguruan Tinggi dan kemajuan peradaban bangsa; c. peningkatan kemandirian, kemajuan, dan daya saing bangsa; d. pemenuhan kebutuhan strategis pembangunan nasional; dan perubahan Masyarakat Indonesia menjadi Masyarakat berbasis

Bagi PT negeri yang belum mampu, dapat ditegaskan dengan pengelola perguruan tinggi bahwa kebijakan bahwa perguruan tinggi tersebut masih berada pada tahap teaching-university.  Tentunya masih ada komponen penelitian, namun komponen penelitian tidak begitu dalam. Bagi yang sudah berani menyatakan sebagai research university, harus konsekuen untuk mengembangkan diri. Salahsatu konsekuensinya adalah merekrut dan mengembangkan karir peneliti yang full-timer. Di Dalam UU Pendidikan Tinggi hanya ada dua jenis tenaga: dosen dan tenaga kependidikan. Namun sebuah research university perlu mempunyai tenaga peneliti yang full-timer. Hal ini perlul masuk dalam Statuta.
Bagi research university salah satu konsekuensinya adalah: Apakah  penelitian memang cenderung  untuk penelitian multi disiplin? Bagaimana dengan penelitian ilmu-ilmu dasar? Di research university di berbagai kampus baik di luar negeri, pola pengembangan sebagian justru masuk kepada pengembangan penelitian monodisiplin beserta pengembangan infrastrukturnya.  Oleh karena itu, pengembangan penelitian monodisiplin yang langsung masuk ke lab atau unit penelitian di fakultas perlu diperhatikan. Sebagai catatan:  penelitian di bawah fakultas bukan berarti tidak melakukan kerjasama dengan dosen fakultas lain. Insentif untuk dosen yang meneliti perlu ditingkatkan, termasuk ruang kerja yang mendukung penelitian.

Sebagai ringkasan diperlukan transformasi dari budaya teaching ke budaya meneliti. Transformasi ini tidak mudah karena menyangkut perubahan budaya organisasi dan budaya kerja dosen, dan fasilitasnya. Bagi perguruan tinggi yang belum mampu meneliti, sebaiknya tegas menyatakan diri sebagai teaching-university dengan mutu yang baik. Bagi yang mampu, harus menjadi research-university yang benar. Perubahan budaya ini harus dilakukan oleh pengelola perguruan tinggi dengan dasar UU Pendidikan Tinggi.


Perlunya perubahan mind-set secara total

DISKUSI INTERAKTIF

001

GOVERNANCE UNIVERSITAS

002

KEPEMIMPINAN ILMU

003

KEPEMIMPINAN STRUKTURAL

LINK TERKAIT

kemriting hpeq2 unesco2 pkkki2mmpt