Manajemen Pendidikan Tinggi

Reportase

Reportase Webinar Manajemen Pendidikan Tinggi, Kosongnya Kampus Kita, Apakah (Masih) Terjadi?

Kamis, 21 Desember 2017

Universitas Gadjah Mada, yang merupakan kampus pertama setelah kemerdekaan Republik Indonesia, untuk Tri Dharma  membangun gedung-gedung megah sebagai fasilitas kampus dan selaras dengan Tri Dharma perguruan tinggi. Hal ini diharapkan menciptakan suasana kondusif yang mendukung lingkungan akademik, selain untuk menarik minat dari calon mahasiswa melanjutkan studi di UGM. Pertanyaannya apakah benar, bahwa gedung ikonik UGM ini rapi seperti yang selalu terpotret?  Diselenggarakan webinar Manajemen Pendidikan Tinggi di Ruang Senat Utara, KPTU, FK UGM membahas mengenai Kosongnya Kampus Kita, Apakah (masih) Terjadi?. Seminar ini diikuti mahasiswa manajemen pendidikan tinggi, perwakilan rektorat, dan telah diikuti melalui webinar juga.

Mahasiswa Manajemen Pendidikan Tinggi di bawah bimbingan dari Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D selaku dosen Manajemen Perubahan di Pendidikan Tinggi melakukan pemotretan terhadap lingkungan akademik yang ada di UGM. Masing-masing mahasiswa menyebar untuk mendapatkan potret lingkungan fisik di UGM dan situasi kampus pada pagi dan sore hari. “Hasilnya cukup mengejutkan. Beberapa kursi bekas diletakkan begitu saja, bahkan tidak ditata dengan rapi. Sampah-sampah tidak dibersihkan. Bahkan sampai berhari-hari setelah melakukan pemotretan pertama dan kedua, tidak ada yang berubah, dan ironinya sampah ini ada di balik tembok kantin”, ungkap Rahmawati salah satu perwakilan mahasiswa yang mempresentasikan hasil Esay Foto mahasiswa.

Temuan menarik mengenai banyaknya barang-barang bekas yang ditumpuk ini seolah dibiarkan saja dan tidak dipedulikan merupakan suatu pembiaran. Suatu bentuk “pembiaran” kondisi kampus ini bisa jadi merupakan terjemahan dari penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagai business as usual. Hal yang patut untuk dikhawatirkan adalah apakah “pembiaran” ini telah menjadi budaya organisasi perguruan tinggi sebagai sebuah sistem makna yang dianut bersama oleh para civitas akademik.

Seolah hal biasa saja jika melihat ada tumpukan barang-barang di berbagai sudut kampus, bahkan dosen yang merupakan ‘pemimpin ilmu’ tidak peduli dengan keadaan di lingkungan sekitarnya karena bukan tugasnya. “Sense of belonging yang ada belum holistik. Horison mengenai kehidupan bersama terkotakkan oleh patokan tupoksi yang formalistik.”, ungkap Dr. Agus Suwignyo, M.A, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, yang menjadi narasumber dalam pertemuan ini.

Dr. Agus Suwignyo, M.A., juga pernah memotret fenomena serupa di berbagai kampus negeri memang sudah menjadi hal biasa ditemui. Peran dosen yang merupakan pekerjaan “full timer” seharusnya merupakan selalu berada di kampus dari pagi sampai sore hari bekerja di laboratorium, studio, pusat-pusat studi, atau kelompok kerja. Pemimpin ilmu ini berada di sudut-sudut kampus, dan logikanya tidak seharusnya membiarkan “kekumuhan” terjadi.  Namun, ada hal menarik yang ditemukan dalam esay foto yang dipaparkan mahasiswa, bahwa aktivitas pada sore hari sudah sangat berkurang dibandingkan pada siang hari.

Keberadaan pendahulu UGM dapat dirasakan secara global, dan sekarang UGM memiliki ambisi internasional. Namun apakah cukup mendukung perlu dikaji lebih jauh lagi dan UGM masih perlu melakukan banyak hal, ada proses yang terus bergerak. Oleh sebab itu, sebaiknya dosen jangan terlalu sering meninggalkan kampus dalam arti fisik.

Dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai perlunya kantin yang terstandar lebih baik. Kantin merupakan bagian integral dari pendidikan. Kantin tidak hanya sekedar menjadi tempat makan, namun juga menjadi tempat diskusi yang mendukung aktivitas akademik kampus. Gizi mahasiswa juga perlu diperhatikan asupan dan pemenuhannya. Salah satu peserta seminar ini mengungkapkan perlunya kebijakan dari atasan mengenai standar kantin diterapkan di UGM. Sebagai salah satu solusi atas perlunya standar kantin kampus ini Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. memberikan tanggapan dengan membentuk CoP Kantin UGM. Harapan ke depannya, di UGM dapat dikembangkan Community of Practice (Masyarakat Praktisi) Kantin yang membahas bagaimana mengembangkan kantin dengan standar yang baik. (Tini Adiatma)


Unduh Materi


 

Copyright © 2018 Manajemen Pendidikan Tinggi