Manajemen Pendidikan Tinggi

Berita Nasional - Internasional

Meninggikan Kualitas SDM Indonesia dengan Relevansi Pendidikan Tinggi

JAKARTA, suaramerdeka.com - Sebagai rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan diskusi publik dengan topik Cetak Biru Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, di Auditorium Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro memaparkan secara rinci terkait arah pembangunan sumber daya manusia Indonesia, khususnya dalam ranah pendidikan tinggi.

Acara diawali dengan sambutan sekaligus pengantar dari Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti. Dirjen Ghufron mengatakan, pihaknya selama tahun 2016 sudah menyelesaikan rencana induk pengembangan SDM untuk tiga sektor, meliputi infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Artinya, hingga tahun 2024 nanti sudah ada peta terkait kebutuhan lulusan perguruan tinggi di tiga sektor tersebut. Data inilah yang diharapkan dapat menjadi pertimbangan institusi, termasuk Bappenas dalam menyusun kebijakan dalam rangka peningkatan SDM Indonesia.

"Tahun ini Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti kembali menyusun rencana induk pengembangan SDM untuk bidang pangan dan kemaritiman. Kami merasa pemetaan supply dan demand ini sangatlah penting karena saat ini relevansi pendidikan tinggi terhadap kebutuhan kerja masih kurang. Dapat dilihat pada sektor pendidikan, setiap tahun perguruan tinggi mencetak kurang lebih 250 ribu calon guru, tetapi nyatanya yang benar-benar terserap menjadi guru profesional tidak lebih dari 20 persennya," tutur Dirjen Ghufron.

Relevansi pendidikan tinggi, ucap Dirjen Ghufron, menjadi salah satu fokus Kemenristekdikti dalam meninggikan kualitas SDM Indonesia. Pasalnya, jumlah perguruan tinggi Indonesia sangat banyak, mencapai lebih dari 4.400 perguruan tinggi. Angka ini jauh melebihi jumlah perguruan tinggi di China yang memiliki penduduk terbanyak di dunia. Terkait hal tersebut, cetak biru pembangunan SDM diharapkan mampu menjadi acuan dalam membuka fakultas atau program studi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

"Jangan sampai perguruan tinggi membuka program studi yang lulusannya sudah tidak dibutuhkan, atau kita kekurangan lulusan yang justru dibutuhkan. Apalagi dalam kaitannya dengan revolusi industri 4.0, dunia kerja serba berubah, bahkan ada beberapa pekerjaan yang sudah tergantikan oleh robot," ujarnya.


-- https://www.suaramerdeka.com --






 

Copyright © 2018 Manajemen Pendidikan Tinggi